detik com Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengajak Kadin dan HIPMI untuk mengembangkan sektor UMKM.

Pakdhe Karwo, sapaan akrabnya, mengatakan krisis ekonomi global yang melanda Eropa diprediksi berlangsung panjang. Hal tersebut disebabkan tingkat daya beli masyarakat di kelas menengah mengalami penurunan.

Secara tidak langsung, krisis tersebut bisa berpengaruh bagi Jatim.

”Oleh sebab itu, Kadin dan HIPMI harus bisa membaca situasi seperti itu. Salah satunya adalah memperhatikan sektor UMKM,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (19/6/2017).

Dia berpendapat, apabila sektor UMKM tidak diurus, akan berdampak negatif bagi ekonomi mikro. Kadin dan HIPMI, lanjutnya, tidak boleh terjebak menjadi multinasional corporation. Apabila ini dilakukan maka Kadin dan HIPMI bisa menjadi bankrut karena faktor efisiensi.

”Awalnya mungkin bagus, tapi pasar akan semakin kecil karena posisi industri mikro pada posisi jatuh. Maka dari itu, betapa pentingnya Kadin dan HIPMI mengurus industri mikro,” ungkapnya.

detik com Pakde Karwo menjelaskan, industrialisasi bisa berdampak negatif bagi keberadaan UMKM, karena konsep yang dianut adalah efisiensi. Dengan adanya efisiensi akan menyebabkan disparitas keadilan yang menonjol.

Dicontohkannya, jumlah angka pengangguran di beberapa negara mengalami kenaikan karena efisiensi, misalnya Spanyol mengalami peningkatan jumlah pengangguran menjadi 18%, Perancis 14%, dan Amerika 8,7%.

”Hal itu efek dari tidak diurusnya industri sehingga pasar jatuh karena income generatenya turun,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Pakde Karwo mengusulkan agar Kadin dan HIPMI melakukan restrukturalisasi, di antaranya mengupayakan pinjaman bank dengan bunga satu digit. Sedangkan Pemerintah menarik pajak kecil untuk kelompok kecil. Demikian pula, retail diurus oleh pemerintah.

”Apabila hal tsb dilakukan, maka akan memberikan dampak bagus, yaitu income bagi industri kecil akan mengalami kenaikan,” paparnya.

Pakdhe Karwo juga menyebutkan neraca perdagangan Jatim pada Januari – Februari 2017, surplus perdagangannya naik 95% dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya, yakni dari Rp23 triliun menjadi Rp45 triliun. Hal tersebut, katanya, menunjukkan ada pergerakan mesin di tataran bawah, yaitu sektor UMKM. detik com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *